Cafesufi’s Blog



Refleksi Diri dalam Mensikapi Konflik di Palestina

Konflik di jazirah arab ini memang merupakan suatu konflik yang sangat lama, konflik antara Palestina dan Israel. Konflik yang selalu mengundang perhatian publik dunia internasional dan tak luput juga publik nasional. Para kritikus berlomba-lomba melontarkan argumen-argumen dan kritik pedas, Israel atau Palestina yang patut dipersalahkan. Seringkali para kritikus dalam berbagai media menyamakan konflik ini dengan konflik antara Raja Thalut dengan Raja Jalut dalam versi agama Islam. Israel yang begitu digdaya di jazirah para nabi, seakan-akan kedigdayaannya itu membungkam sesama Negara Raja Jalut di jazirah ini, tak hanya itu, mungkin juga membungkam kedigdayaan Negara Raja Jalut di luar jazirah ini. Organisasi Perdamaian Dunia pun terbungkam ketika dilayangkan salam perdamaian dan senyum palsu diantara dua kubu dalam berbagai konferensi. Sungguh bukan refleksi yang elok.

Gelombang demonstrasi anti Israel di seluruh Dunia khususnya di Indonesia ini menjadi sebuah refleksi tersendiri, bahwa memang Israel-lah yang patut dipersalahkan dan Palestina-lah yang patut diperjuangkan. Banyak diantara mereka menganggap semua ini merupakan konflik agama, antara Yahudi dengan Islam. Bukankah hal ini bisa memicu ledakan yang lebih besar lagi kalau suatu masalah dikaitkan dengan hal yang lebih urgen dari hal urgen lainnya, yakni agama yang pada umumnya sangat berbeda. Namun saudara-saudara kita di Daerah Solo memberikan refleksi yang sangat berbeda. Para pemuka agama dari berbagai agama berkumpul, dan dengan tegas menolak bahwa konflik ini berdasar atas keagamaan, melainkan hanya kebiadaban para serdadu-serdadu dan pemerintah mereka.
Kalaupun konflik ini memang benar-benar bukan atas dasar agama, dan mensikapinya sebagai konflik kemanusiaan, lalu mengapa Israel dikutuk dan dicerca sedemikian rupa tanpa menyisakan satu kebaikan saja?dan memperjuangkan membela Palestina tanpa menyalahkannya sedikitpun?Lihatlah keluar, apakah orang-orang yahudi baik didalam Israel itu sendiri yang juga berdemonstrasi menolak kekerasan sama dengan para serdadu zionis yang tidak beradap itu?apakah orang-orang yahudi yang berada di luar Israel, mengahadap tuhannya dengan hati tentram di antara sinagog, senantiasa juga mengharap hidup yang damai, harapan yang sama dengan harapan kita juga disamakan dengar para serdadu itu?Inilah yang menjadi latar belakang setiap usaha untuk mendamaikan kedua kubu selalu gagal. Dihinggapi rasa yang sama-sama salah dan tidak mau mengalah dengan mengklaim bahwa sayalah yang paling benar . Andai kedua kubu berjanji tanpa salam perdamian dan senyum palsu, melainkan dengan sebenarnya janji, Israel menghentikan laju roda-roda besinya di Palestina, Palestina menghentikan pesta kembang apinya di Israel memungkinkan perdamaian atas konflik kemanusiaan bisa terselesaikan. Andai tangan-tangan imut remaja Palestina tidak menggenggam kerikil-kerikil lagi, melainkan menggenggam al-qur’an kitab-kitab karya ulama’ seperti jurumiyah dengan sekuat-kuatnya, mugkin akan menjadi refleksi tersendiri yang patut bagi pemuda-pemuda muslim di Dunia.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: